RUMAH SEMANGAT

Semangat Yeni

Rabu, 17 Agustus 2011

Wonderful as Rainbow

Rabu, 17 Agustus 2011

Bismillahirrohmanirrohiim

Allah, I can’t begin to tell You

All the thing I love You for

Allah, I only know that everyday

I love You more and more

(My Pray, Snada)

Alhamdulillah hari ini Allah masih memberikan udara gratisnya untuk mengisi ruang paru-paruku. Semoga hari ini lebih berkah dan lebih bermakna. Hidup, sekecil apapun peristiwa yang dialami pasti ada makna didalamnya. Alhamdulillah Allah telah menghadiahkan begitu banyak saudara sehingga aku bisa belajar dari mereka, belajar tentang makna hidup dan kehidupannya, hingga menghantarkanku pada satu dunia baru, yups! Wonderful as Rainbow is my lovely blog. Disini…kita bisa berbagi tentang banyak hal…apapun yang bisa mewarnai hari-hari kita. Karena hidup penuh warna itu indah, sangat indah.

Frens fillah….alhamdulillah sudah 3 hari ku tempati rumah baruku ini, namun belum juga ada ide buat nulis neh. Setelah aku hiasi rumah dengan ikan yang lucu-lucu, aku aku pergi jalan-jalan mencari suguhan yang enak-enak (kan mau lebaran, ups masih 2 minggu lg dink). Alhamdulillah tak perlu waktu lama, akupun singgah di www.hidayatullah.com dari sana aku dapet satu artikel yang sangat bagus tentang tujuan utama shaum yang berjudul “Taqwa dan Bahagia” di artikel ini diterangkan bahwa seruan shaum ini khusus bagi orang yang beriman. Orang kafir-materialis-sekularis-liberalis jelas tidak terkena seruan ini. Hmm sudah dapet satu sajian untuk disimpan di ruang tamu tapi rasanya masih kurang, akupun melanjutkan perjalanan ke FB Nie Yeni, disana aku menemukan satu lagi tulisan yang membahas bulan ramadhan “Ramadhn Bulan Pembinaan Ummat”, ah aku ambil untuk melengkapi sajian yang pertama. Saat berpamitan, Nie Yeni ngasih kado sebagai tanda persahabatan katanya, di kado itu tertulis “Teruntuk Sahabatku” tapi aku tak langsung membukanya, akan ku buka dan disimpan aja dirumah, kan kujadikan kado juga buat sahabat-sahabatku yang berkunjung nanti.

Akupun bergegas pulang setengah berlari, baru teringat kalo ikan-ikan dirumah baruku itu belum dikasih makan. Haduuh maafkan ya ikan….kalian jadi telat makan. Masih dengan nafas yang tersengal-sengal, ku duduk di sofa merah yang sangat nyaman ini, wah sudah ada 3 suguhan di meja tamu. Kalo ibarat kue lebaran mah sudah ada chocolate chip, salju keju dan nastar. (heuheu mentang-mentang jualan kue lebaran neh)…tapi kok kaya ada yang kurang yah…hmm ternyata putri salju kesukaanku belum keliatan…ya! Putri salju itu oleh-oleh dari akhwatzone, “KAN, ADA ALLAH”. Kini Kue lebaranpun sudah komplit, selamat menikmati, eh selamat membaca maksute.

Keesokan harinya……

Aaaaggggh belum juga nemu ide buat nulis. Ide ada dimanakah dirimu?? Datang dan mendekatlah padaku!!! Dan tiba-tiba dari “blog favorit Valerie” kutemukan tulisan yang seolah tau permasalahanku.. “Ide-ide itu berserakan di sepanjang jalan kehidupan. Bertemanlah dengan mereka (pengalaman, pengamatan, imajinasi, dkk) dan beri mereka ruang untuk menari di atas kertas. Cobalah mengumpulkan kalimat dan penggalan kata yang mungkin diucapkan orang lain, yang kita dengar secara sengaja/tidak sengaja, yang kita baca di koran, yang kita lihat, yang kita pikirkan dan kita impikan. Ikatlah dengan mencatatnya dan saksikanlah, karakter-karakter akan mulai bermunculan. Selamatkan potongan-potongan peristiwa, impian, angan-angan, renungan, dan reaksi terhadap hal-hal di sekeliling kita. Genggam ide-ide yang berseliweran dengan menuliskannya segera! Saat itu juga! Jangan biarkan ia lari dan pergi, karena mungkin ia tak akan pernah kembali untuk yang kedua kali. (Menulis = Melawan Kekosongan)”

Great! Seperti orang yang dapat wangsit, akupun berbegas menulis, karena tak ingin ide yang muncul dipikiranku ini pergi dibawa angin kemalasan. kucoba untuk menyelamatkan potongan-potongan peristiwa yang bagiku sangat special. Karena sejak saat itu hidupku semakin berwarna-warni seperti pelangi, sangat indah…yups! Wonderful as Rainbow.

Sebelum melanjutkan tulisanku izinkan aku dendangkan lagu ini:

Akhirnya akhirnya aku temukan
Wajah yang mengalihkan duniaku

Membuat diriku sungguh-sungguh
Tak berhenti mengejar cinta-Nya
‘kan ku berikan yang terbaik
‘tuk membuktikan
cinta kepada-Nya


Dia dia dia teman yang ku tunggu tunggu tunggu
Dia dia dia lengkapi hidupku
http://akhza.com/liriklagu
Dia dia dia sahabat yang ‘kan mampu mampu mampu
Menemaniku mewarnai hidupku

Prenz….ide pertamaku ini tentang “dia dan aku”. Dia yang telah mewarnai dinding hatiku. Dirumah baruku ini akan kutulis sosok nya dengan penuh cinta. Kali pertama aku mengenalnya dari seorang sahabat, saat itu aku lagi markirin motor hendak pulang dari rumahnya,“yen, coba di fb jadi temen nya “emak….” duh lupa nama lengkapnya siapa,emak ingin mati syahid gitu???pokoknya ada emak nya, PP-nya salam satu jari,itu katanya salam tauhid. status-statusnya bagus, bikin semangat” begitu kata Nina Syafril (http://ninasyafril.blogspot.com/) yang sejak SMA ku panggil uni. Tapi bukan karena dia asli dari Minang lho, uni itu singkatan dari ukhti nina. Namun aku tak pernah nemuin nama “emak” di FB. Ujug-ujug aku uda jadi temen dia dengan nama “Khaleeda Killuminati”. Yaaaah ketauan deh…..hehe. betul, dia adalah mba Ida, yang telah menginspirasiku buat nulis. Dia yang aku kenal lebih jauh setelah berkunjung kerumah maya nya di jalan akhwatzone. Selama jadi temennya di FB, aku tak pernah berani menyapanya. Benar apa yang digambarkan sama uni, status-statusnya bikin semangat en ngajak berfikir. tapi aku tak terlalu merhatiin statusnya apalagi komen, aku hanya sesekali nyimak. Sampai pada suatu hari ada seorang ikhwan yang posting tulisannya di FB, paragraph awalnya nyeritain tentang seorang akhwat yang excited banget sama konspirasi, wah seperti dapet suntikan semangat aku langsung meluncur ke tkp www.akhwatzone.multiply.com (saat itu aku en uni lagi seneng-senengnya bahas konspirasi). Prenz….Ternyata akhwat yang diceritain itu adalah Khaleeda Killuminati, hmmm sepertinya Allah sudah mengatur alur persaudaraan kami. Dan seiring berjalannya waktu, aku akhirnya tau bahwa ikhwan itu adalah bang Jamal www.djsknight.multiply.com. Subhanallah, semakin yakin lah bahwa sekecil apapun yang terjadi dlm hidup kita itu tidak terlepas dari takdir-Nya. Dan semua takdir-Nya itu indah. Kata mba ida “Saya selalu percaya, bahwa semua peristiwa yang saya alami, setiap kejadian yg terlewati, sekecil apapun itu, sesederhana apapun itu, Alloh ingin menunjukkan sesuatu, Alloh ingin memberitahu sesuatu. Selalu ada hikmah, selalu ada makna. Pasti!” dan akupun percaya itu mba.

Pertama kali berkunjung kerumahnya, aku seperti menemukan sosok diriku dalam dirinya. Persis!. suguhan pertama yang ku temukan disana adalah tentang aku, ya tentang aku yang baru beberapa jam lalu berikrar untuk cuti dakwah karena ingin focus sama skripsi. Postingan itu berjudul “Aku Ingin Cuti Dakwah”. Dialog-dialog penulis dengan dirinya dicermin persis seperti dialog-dialog aku dengan “aku aku” yang lain beberapa jam yang lalu. Ini adalah Beberapa dialognya "Lihatlah aku, semakin kurus saja! Lemah dan sering jatuh sakit." Tiba-tiba orang di seberang kaca angkat bicara, Tiba-tiba datang suara lain yang tak kukenal,
"Kau begitu lemah! Rapuh! Di balik kobaran semangatmu, ternyata kau sangat keropos! kau lelah kan? Kau jenuh kan? Sudah...akhiri saja semua! copot gelarmu sebagai aktivis dakwah. Toh, masih banyak temanmu yang akan memperjuangkan ajaran Tuhanmu itu! kau bukan malaikat! Kau hanya manusia lemah berlagak kuat. Kapasitasmu sangat terbatas! Jangan sok tangguh gitu deeh...Sudahlah...lepas saja amanah-amanah dakwahmu itu! Bukankah ada amanah ortu untuk belajar dan lulus kuliah tepat waktu? Tidak inginkah kau merasakan hidup tenang tanpa beban? Nikmati saja dunia yang sementara ini, mumpung masih muda."
"Sudah...jangan bingung. Begini saja, kalau kau memang tak mau melepas gelar da'imu, mending kau minta cuti saja pada Tuhanmu. Toh, suatu saat nanti, jika keadaanmu sudah pulih, kau bisa kembali berdakwah dan bergabung dengan kawan-kawanmu yang sok suci itu." lanjutnya.

Kawan,itu semua adalah dialog-dialog hatiku hari itu. Keinginan cuti itu muncul saking gak mau ngecewain ortuku lagi karena selalu menunda skripsiku. sakit, kerja, amanah dakwah, sulit focus, malah selalu menjadi kambing hitam. Padahal aku yang salah, aku yang selalu mengkhianati target lulusku. *Wah kalo ini beda banget sama mba ida.

Kulanjutkan kedialog berikutnya… "Ya Allah...mengapa sampai terbesit pikiran ingin cuti dari dakwah? Padahal, belum tentu aku masih di dunia ini setelah masa cutiku habis. Siapa yang menjamin usiaku masih panjang?! Bagaimana jika dalam masa cuti, Allah memanggilku dan meminta pertanggungjawabanku?! Bekal apa yang akan kubawa? Lalu bagaimana jika aku terlena dan enggan kembali berdakwah? Astaghfirullah....Alangkah bodohnya aku! Mungkin iya, aku lelah, aku capek, penat, jenuh! Tapi, bukankah itu biasa?!.......”

Disini airmataku banjir. Langit seperti runtuh menimpa tubuhku. Kontan, ya Kontan Allah menegurku. Hari itu juga Allah menegurku lewat akhwatzone. Aku harusnya bersyukur karena Allah dengan kasih sayang-Nya telah memilihku untuk mengemban amanah ini.

Nah itu dia kesamaan kami, pernah merasa ingin cuti dakwah, pernah dirawat karena typus. Sejak hari itu aku mulai intens baca akhwatzone, boleh dibilang, aku pembaca setianya. Setiap online, aku langsung buka akhwatzone dan duduk depan laptop hingga malam semakin pekat. Diam-diam aku mengaguminya. Membaca tulisannya berulang-ulang tak pernah membuatku bosan. setiap baca tulisannya semakin banyak Tanya dihati,…mba ida ini kuliah dimana, jurusan apa, angkatan berapa, ngajinya dimana, sekarang aktivitasnya apa. Aku Tak pernh berani menanyakan hal ini ke mba ida di FB, aku belum berani menyapanya hingga tulisan “Berpikir Abstrak” diposting di FB. Disanalah pertama kali aku komen di FB nya. Disanalah pertama kali aku ungkapin bahwa aku ingin ketemu mba ida, benar-benar ingin ketemu. Aku menyayanginya, sangat. Dan aku tak perlu menanyakan pertanyaan-pertanyaan itu ke mba ida,karena semakin kuselami tulisannya, semakin kutemukan jawaban-jawaban dari rasa penasaranku selama ini. Pren….mba ida itu kuliah angkatan 2005 di pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Unesa, sekarang ngajar di SDIT Luqman al Hakim di Balikpapan sana keliatan banget kalo mba ida suka anak-anak, kalo soal ngaji dulu pernah aktif di pks terasa banget semangatnya waktu direct selling, tapi ternyata mba ida ini pernah juga ngaji diHTI, Salafi, Jamaah Tablig, de el el…kata mba ida dimana ada kajian, diusahakan datang, ngaji dimana-mana bukan dalam rangka mencari tapi belajar. “aku belajar, bukan mencari”. Mba ida itu deket banget sama kakanya. Banyak cerita tentang kedekatannya dengan kaka nya itu.

Subhanallah….ternyata kami sebaya, tapi dia sangat dewasa. Sangat peka pada semua hal. Semangatnya untuk mati syahid telah memalingkan duniaku…maksudnya ceritanya tentang medan jihad telah membuatku sadar bahwa sekarang gak ada waktu lg untuk memikirkan masalah pribadi terus, urusan umat begitu banyak…sodara-sodara kita yang sedang dijajah oleh zionisme di Palestina, Afganistan, Pattani, Dagestan, etc..setiap detik mereka berjuang agar Kalimah Allah tetap tegak di bumi-Nya ini. Aku…belum bisa berbuat apa-apa tapi minimal ingat untuk mendoakan mereka. Frens….aku kuliah angkatan 2005 pendidikan bahasa inggris (hmm kita beda jurusan) di Unwir (Universitas Wiralodra), aku juga suka banget sama anak-anak, aku pernah sangat semangat aktif di pks, Aku pun punya satu kaka laki-laki yang sangat dekat, aopik…. waktu SMA aopik sering dibilang pacarku sama temen-temen karena sll antar jemput ke sekolah, kita suka makan baso berdua di deket jogja, atau jalan-jalan ke Cirebon. Tapi pas aopik nikah kita jadi jarang ketemu. Hmm apalagi ya yang sama? yang pasti pembahasan mba ida soal dakwah dan bagaimana menyikapi rasa cinta sama dengan pemikiran aku. Aku juga gak suka banget minum obat,kalo berobat sering gak tuntas minum obatnya. Sejak sma suka banget baca buku terutama novel-novel en cerpen islami. Tapi buku novel2ku ilang semua tak ada yang kembali. Mba ida itu orangnya rame, suka cerita, menyenangkan deh…ini yang bikin kangen…rasanya kalo saja rumah kita deketan, aku pengen sering-sering main kerumahnya, diskusi tentang bnyak hal, minta diajarin bikin capcay….dan belajar nulis.

Frenz….Masih ada lho karakternya yang sama seperti yang ini” Ida adalah seorang anak manusia yang memiliki karakter “emanan” (boso jowo). Kamsudnya, dia sayang banget sama benda yang dianggapnya “penting dalam hidupnya”. Anehnya, semua benda dianggap penting. Kertas apapun yang berserakan di kamarnya selalu ia ‘selamatkan’. Termasuk tulisan-tulisan tangannya, coretan2nya, kwitansi2 pembelian, kartu2 undangan, sisa pamflet, brosur, kartu tanda peserta, kartu tanda panitia, sampe tiket pun dia koleksi (penting nggak sih?).

Bukan, bukan karena dia anak yang rajin dan telaten mengumpulkan ‘kertas2 bersejarah’ itu. Melainkan, karena sifat malesnya yang suka kambuh untuk sekadar berjalan dan membuangnya ke tempat sampah. Walhasil, lemari, kardus, dan tas-nyalah yang menjadi ‘tempat pembuangn sementara’. Jadi jangan heran kalo menemukan ‘sampah2’ berserakan di dalam tasnya. “Habis, gak ada tempat sampah sih. Dari pada buang sembarangan, mending kusimpen dulu aja di tas”, pikirnya saat itu. Namun, hal ini menjadi berlarut-larut. Kemampuan mengingatnya yang payah (alias sering lupa) membuat kertas-kertas itu bersemayam lebih lama di tasnya.(
Bintang, Hujan, Pulang...)Yang ini mah nyeritain aku banget dah. Suer, hehe…liat aja tas aku, banyak sampah kertasnya....heuheu.

Terakhir deh, kita punya cerita yang sama tentang temen liqo. Jadi Temen-temen liqo aku wktu SMA banyak yang kuliah keluar kota, kita jarang komunikasi sampe gatau kalo kita semua masing-masing sudah keluar dari tempat ngaji semula dengan alasan yang beragam, (eh masih ada satu akhwat yang masih istiqomah disini dink). Nah suatu saat kami (temen2 liqo sma) ngumpul en silaturahmi kerumah murobiyah waktu SMA dulu, cerita2 banyak hal dan mengenang masa lalu. Meskipun kini kami beda harokah tapi ukhuwah tetap terjalin. Nah Begitulah kira-kira yang dialami mba ida juga.

Wah panjang juga ceritanya ya, yang pasti setiap baca akhwatzone semakin kutemukan diri aku disana, meski gak semua. Banyak juga yang berbeda. Sekali lagi, banyak juga yang berbeda. Afwan tidak bermaksud untuk membandingkan sosoknya denganaku, aku hanya merasa punya beberapa kesamaan dengannya yang ingin di bagi disini. Dan izinkan aku menuliskan ini kembali ”siapa dan bagaimana aku itu tidak penting,dengan apapun kau menyebutku itupun tak penting. Yang penting adalah siapa kau bagiku. Terimakasih, Mengenalmu aku jadi lebih baik. memang tak ada yang bisa aku lakukan untukmu tuk buktikan rasa yang ada….tapi yang pasti aku memiliki 4 ha untukmu….yaitu tulus, rindu, cinta dan doa. Aku biarkan kau tempati satu posisi dalam hati tanpa ada kesepakatan denganmu, jadi maafkan bila keputusanku ini salah menurutmu”

Dari mba ida aku belajar semangat tholabul ilmi, belajar memetik hikmah dari setiap peristiwa, meskipun masih banyak peristiwa yang berlalu tanpa ku dapati maknanya yang akhirnya berakhir dengan penyesalan,ya menyesal karna belum bisa mengambil ibroh. Tiada hari tanpa perbaiki diri dan peningkatan qualitas (iman, ilmu, amal, tarbiyah, da'wah dan jihad). Dari mba ida juga image aku akan kerumitan dan kekusutan benang-benang konspirasi berubah menjadi sesuatu yang mudah dan mengasyikkan. Bahas konspirasi sama dengan mengkaji Alquran dan hadits juga sejarah. Pokoke konspirasi itu membuat kita lebih deket sama Allah, lebih butuh Allah, dan semakin yakin akan kekuasaan Allah.

Kalo bicara mba ida maka kita bicara tentang konspirasi, bintang, jihad, juga capcay, hehe. Sampai Mba ida itu banyak julukannya, mulai dari Miss Conspiracy, Miss Blue, Miss Capcay, akhwat Militan, Ukhtee Tangguh.

http://akhwatzone.multiply.com/ is the must visit blog, disana ada banyak cerita tentang Tauhid, Dakwah, Tarbiyah, Cinta, Conspiracy dan Jihad. Monggo berkunjung. Dijamin anda akan betah berlama-lama disana.

Mba ida….uhibbuki fillah, jazakillah untuk semua ilmunya. Doakan saya agar bisa mengamalkannya. Dan istiqomah dijalan-NYA. Amien.

Semoga Allah senantiasa menjaga ukhuwah kita, hingga kita dipertemukan di Jannah-NYa kelak. Kabulkan ya Rabb, Amien.

Alhamdulillah akhirnya selesai juga tulisanku buat rumah baru tercinta ini.

Valerie Nie 18082011 02.41 am

Selasa, 16 Agustus 2011

"Kan, Ada Allah..."

Wahai diri, mengapa sedih?

Mengapa merasa sepi?

Koq mikirin yang lain?

Jangan takut....

Kan, ada Allah...


Diri, masalahnya jangan dipendam ya..

Curhatin aja

Minta aja

Butuh apa sih??

Kan, ada Allah...


Diri, jangan maksiat ya...

Meski gak diliat orang, akhlaknya dijaga

kamu ada yang merhatiin lho..

kau juga diawasin

Kan, ada Allah....


Diri, hadapi aja hidup ini

Yakinlah bahwa anti bisa!

Sedih, susah, menderita itu biasa

Percaya deh, akan ada yang menolongmu

Kan, ada Allah..


Diri, jangan lupa bersyukur ya..

Bersabar dan istiqomah

Ibadahnya juga yang ikhlas

Jangan khawatir nggak dibalas

Kan, ada Allah...


Diri, kamu gak sendiri

kau juga dicintai

kau sangat disayang

kamu gak akan merasa kekurangan

Kan, ada Allah


Diri, tawakkal, bersabar dan ikhtiar...

Kan, ada Allah


****

Ini oleh-oleh dari akhwatzone. suka banget ama tulisan mba ida yang satu ini. mengingatkan diri bahwa Allah-lah tempat bergantung segala urusan. jika masalah menghadang gak usah sedih kan ada Allah, gak usah panik kan ada Allah. gak usah takut melangkah kan ada Allah. bahkan jika semua orang meninggalkanmu,Allah selalu ada menjagamu. jazakillah mba ida.

When you feel all alone in this world
And there's nobody to count your tears
Just remember, no matter where you are
Allah knows
Allah knows


http://akhwatzone.multiply.com


Teruntuk Sahabatku



Ini sebuah kisah tentang dua orang sahabat karib yang sedang berjalan melintasi gurun pasir.Ditengah perjalanan, mereka bertengkar,dan salah seorang menampar temannya. Orang yang kena tampar, merasa sakit hati,tapi dengan tanpa berkata-kata, dia menulis di atas pasir : HARI INI, SAHABAT TERBAIKKU MENAMPAR PIPIKU. Mereka terus berjalan, sampai menemukan sebuah oasis, dimana mereka memutuskan untuk mandi.Orang yang pipinya kena tampar dan terluka hatinya,mencoba berenang namun nyaris tenggelam,dan berhasil diselamatkan oleh sahabatnya. Ketika dia mulai siuman dan rasa takutnya sudah hilang,dia menulis di sebuah batu: HARI INI, SAHABAT TERBAIKKU MENYELAMATKAN NYAWAKU. Orang yang menolong dan menampar sahabatnya, bertanya, "Kenapa setelah saya melukai hatimu,kau menulisnya di atas pasir, dan sekarang kamu menulis di batu ?" Temannya sambil tersenyum menjawab,"Ketika seorang sahabat melukai kita, kita harus menulisnya diatas pasir agar angin maaf datang berhembus dan menghapus tulisan tersebut.Dan bila sesuatu yang luar biasa terjadi, kita harus memahatnya diatas batu hati kita, agar tidak bisa hilang tertiup angin."

Dalam hidup ini sering timbul beda pendapat dan konflik karena sudut pandang yang berbeda.Oleh karenanya cobalah untuk saling memaafkan dan lupakan masalah lalu. Belajarlah menulis diatas pasir.

*Teruntuk semua sahabatku, aku mencintaimu semata hanya karena Allah.


Senin, 15 Agustus 2011

Ramadhan Bulan Pembinaan Ummat

Bismillahirrohmaanirrohiim

Pembinaan dalam islam adalah pembinaan sepanjang zaman. Tidak seorangpun yang terbebas dari kewajiban pembinaan. Semakin tinggi derajat seseorang akan semakin besar tantangan yang dihadapinya. Untuk itu ia makin butuh pembinaan. Sungguh bahagia orang yang selalu butuh pembinaan dan celakalah orang yang tidak membutuhkannya lagi.

Bagaimana diri merasa telah sempurna,padahal Nabi yang mulia senantiasa bermohon ampun kepada Khaliqnya seratus kali dalam sehari semalam, demikian pula sahabatnya, Abu Bakar yang bergelar Ash Shiddiq selalu menangis tersungkur dan sujud ketika ingat bahwa sakaratul maut dengan rasa sakitnya dapat menggoyahkan iman dan islam seseorang. Demikian pula Ali bin Abi Thalib sering pingsan dalam dzikir dan doa nya.

Pembinaan dalam islam berarti bimbingan dalam upaya penghapusan dosa, kesalahan, kekhilafan, dan kekeliruan di masa lampau. Pembinaan dalam islam berarti upaya mengganti kesalahan-kesalahan itu dengan kebajikan dan bakti.pembinaan dalam islam adalah pengerahan seluruh potensi diri (aqlun, qalbun, dan nafsun) dan hartanya untuk kejayaan al islam. pembinaan dlm islam merupakan pembekalan diri, keluarga,masyarakat, dan seluruhummat dengan taqwa yang menghantarkan ummat ini menjadi ummat khair yang dibanggakan Allah dan Rasul-NYa. Pembinaan dalam islam berarti pembinaan untuk menemukan makna hakikiyah dalam syahadahnya, yang dengan itu terlahir amal dhahir(thaharah, shalat, zakat, shaum dan haji) dan amal bathinnya.

Terkadang pembinaan berbentuk bimbingan,petuah, pengajaran, dan pemberian petunjuk-petunjuk risalah. Dipihak lain justru kita dibiarkan agar perlahan-lahan tumbuh dewasa dan menemukan jati diri. Pembinaan dapat merupakan doktrinasi, tetapi dilain waktu kita disuruh untuk menatap,menterjemahkan, dan memecahkan sendiri rahasia kehidupan yang ditemukan.

Bershalawatlah kepada Rasul yang mulia, Nabi Muhammad SAW, dan renungkanlah bagaimana beliau membina ummat dari bahan baku para jahili menjadi ummat terbaik yang pernaah ada di bumi milik dan kepunyaan Allah ini.

Renungkanlah kembali kehidupan di Madinah Al Munawwarah, yang ada adalah masjid Nabi tempat ruukuk dan sujud bersama, tempat menjelaskan wahyu-wahyu Illahi, tempat mengadu kepada Rasul dan tempat bertobat. Yangada hanyalah pasar tempat tausiyah sambil mencari nafkah. Disela-sela berkebun, ada obrolan Tanya jawab dan diskusi tentang diri dan masyarakat islam, tentang evaluasi diri dan keluarga. Tempat memikirkan jalan keluar dari berbagai hantaman dan fitnah yang dibuat oleh kaum kafirin. Yang ada hanyalah bukit dan dan lembah gersang tempat Rasul dan para sahabat berjalan mentafakuri alam, tempat mengukur kemampuan dan ketabahan diri.

Sungguh pembinaan di zaman Nabi tidak mengenal tempat dan waktu. Dimanapun dan kapanpun wahyu Allah-lah yang diperdengarkan, Alquran-lah yang dibicarakan, petunjuk Rasulullah-lah yangmenjadi ukuran. Tiada nafas tanpa tasbih, tiada nikmat tanpa syukur, tiada permulaan amal tanpa basmallah, tiada pertemuan tanpa salam, tiada pembicaraan tanpa senyum dan keramahan, tiada kesalahan tanpa istigfar, tiada dosa tanpa tobat, tiada perselisihan tanpa ishlah.

*wah puanjang juga ternyata…..tetap semangat Nie!!!!!

Lanjuuut ah ngetiknya…..

Pembinaan di zaman Rasulullah tidak mengenal umur, jabatan dan kedudukan,kepintaran dan kekayaan,wajah dan keturunan. Yang tua mengasihi dan menyayangi kepada yang lebih muda, yang lebih muda menghormati dan menghargai kepada yang lebih tua. Yang kaya siap dengan tangan dermawan nya, sementara yang miskin memelihara diri dari meminta-minta. Yang berilmu dengan kearifan dan rendah hati menabur dan menebar mutiara ilmu dan hikmah, dipihak lain yang tidak berilmu giat berta’lim dan menghormati guru. Pimpinan dengan adil bijaksana dan penuh kasih sayang melayani,membimbing,memerintah dan mencegah ummat. Sebaliknya ummat dengan kepatuhan,loyal dan khidmat mendengar tausiyahnya,memperhatikan ajarannya,mematuhi aturannya, mentaati perintah dan menjauhi cegahanya.

* Subhanallah, indahnya hidup dlm masyarakat islam.

Ya Allah Yang Maha Melihat lagi Maha Mendengar, akankah kami yang hina dan terpisah jauh dari Rasul-MU yang mulia, mewarisi masyarakat dan kehidupan seperti itu????Ya Rabbi masih adakah kemungkinan kami merubah diri???Ya Allah….kami yang banyak dosa, mungkinkah Engkau ampuni. Kami yang tidak menyayangi yanglebih muda, dan tidak menghormati yang lebih tua, mungkinkah Engkau lindungi? Kami yang malas belajar mungkinkah jadi seorang alim? Kami yang tidak kasih sayang terhadap ummat, mungkinkah malaikat mendoakan? Kami yang tidak taat dan patuh,mungkinkah menddapat syafaat kelak?oleh karena itu, ya Illahi, ampunilah hambaMU ini dan turunkanlah kemurahan-MU kepada kami semua di bulan Ramadhan ini.

Ikhwan,akhwat fillah, ‘alallah,ilallah dan lillah…mudah-mudahan shaum ini, Ramadhan ini, di tahun ini kami akan mendapat binaan, tempaan, ampunan, keridhaan, berkah dan rahmah yang sebesar-besarnya dan mudah-mudahan kita diberi kekuatan untuk mendapatkannya, inshaallah, Amien.

Rasulullah SAW selalu menyambut Ramadhan dengan sambutan:

“Selamat datang, wahai yang mensucikan, telah datang kepdamu Ramadhan, bulan yang mengandung barakah, dalam bulan dimana Allah SWT melindungi kamu, menurunkan Rahmat, menghapuskan kesalahan-kesalahan dan mengabulkan doa kamu.perlihatkanlah kepada Allah kebaikan yang timbul dari diri kamu.maka celakalah orang-orang yng menentang Illahi”

Dikutip dari buku “Ramadhan Bulan Pembinaan Ummat” , Abu Miqdar Sibghotullah.

“Taqwa dan Bahagia”

Oleh: Dr. Adian Husaini

Allah SWT menyeru kepada kita semua – orang-orang mukmin -- untuk melaksanakan shaum (puasa) Ramadhan, agar kita menjadi orang-orang yang bertaqwa. (QS 2: 183). Ya, menjadi orang yang taqwa, adalah tujuan utama ibadah Ramadhan. Mungkin tidak mudah bagi banyak orang untuk membayangkan apa nikmat dan enaknya menjadi orang yang bertaqwa?

Berbeda halnya, misalnya, dengan menjadi presiden, anggota DPR, menjadi direktur, menjadi selebritis. Tergambarlah dengan mudah, enaknya jadi seorang Presiden. Kemana-mana dikawal, masuk keluar mobil pintu dibukakan. Tas dibawakan. Jika lewat di jalan raya, bisa dengan leluasa, karena semua harus menyingkir dari laluannya. Banyak anak muda membayangkan enaknya menjadi selebritis. Kemana-mana dikerubuti penggemar. Selain terkenal, uang pun mudah dia dapatkan. Cukup modal tampang cantik atau jelek sekalian; buka suara sebentar, dan berlenggak-lenggok beberapa saat, sudah bisa masuk TV dan dipuja-puji di sana sini. Sebagian lagi, cukup jual keberanian buka-bukaan, sudah langsung menjadi pujaan.

Lalu, al-Quran memerintahkan kita berpuasa, bersusah payah beribadah, pagi, siang dan malam, supaya menjadi orang yang taqwa! Seruan ini memang khusus bagi orang yang beriman. Orang kafir-materialis-sekularis-liberalis jelas tidak terkena seruan ini. Sebab, tatapan mata dan pikiran mereka hanya terhenti pada aspek materi dan dunia ini saja. Mereka merasa hebat dan merasa berhak mengatur Tuhan, sehingga hukum dan aturan Tuhan dicerca, karena – kata mereka -- tidak sesuai dengan konsep Hak Asasi Manusia.

Orang mukmin tentu berbeda dalam melihat realitas wujud yang ada. Tatapan mata dan pikirannya menembus batas-batas benda yang kasat mata. Ramadhan dilihatnya bukan sekedar bulan-bulan biasa yang datang silih berganti setiap tahun. Ramadhan dilihatnya sebagai bulan mulia, dimana pintu-pintu rahmat, ampunan, dan barokah Allah dibuka seluas-luasnya. Orang mukmin-muttaqin beriman kepada hal yang ghaib, meskipun tidak tertangkap panca indera.

Maka, memang sudah seharusnya, orang mukmin merindukan status taqwa. Sebab, status taqwa adalah posisi yang sangat tinggi dalam kehidupan manusia. Allah sudah memberitahukan kepada kita semua:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوباً وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Yang paling mulia diantara kamu adalah orang yang taqwa.” (QS 49:13).
Bukan presiden, bukan menteri, bukan gubernur, dan bukan anggota DPR, yang pasti mulia. Tapi,siapa pun, dan apa pun status dan profesinya, -- jika dia bertaqwa – maka pastilah dia menjadi yang termulia di mata Allah SWT.

Menjadi orang yang taqwa memang luarrrr biasa tinggi derajatnya. Dan orang taqwa pastilah orang yang bahagia. Allah SWT sudah memerintahkan kita: “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa.” (QS 3:102). “Maka, bertaqwalah kepada Allah semampu kamu.” (QS 64:16). “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan berkatalah dengan perkataan yang benar.” (QS 33:70). “Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah akan memberinya jalan keluar dan memberikan rizki dari arah yang tidak dia perhitungkan.” (QS 65:2-3).

Itulah beberapa perintah Allah agar kita semua benar-benar berusaha menjadi orang yang taqwa. Dijanjikan kepada kita dan bangsa kita, jika kita bertaqwa, maka kita akan mendapatkan berbagai kucuran barokah dari langit dan bumi. (QS 7:96). Maka, jika begitu mulia dan nikmatnya menjadi orang yang taqwa, tentu rugilah kiranya, jika puasa dan ibadah kita tidak mampu mengantarkan kita pada suatu derajat taqwa. Rasulullah saw mengajari kita untuk berdoa, agar kita menjadi orang yang taqwa: “Allahumma inni as-aluka al-huda, wat-tuqa, wal-‘afafa, wal-ghina.” (Ya, Allah aku memohon kepadamu akan petunjuk, ketaqwaan, kesucian dan kemuliaan diri, serta perasaan cukup). (HR Muslim).

Jadi, taqwa adalah suatu kondisi pikiran dan jiwa orang mukmin yang merasakan kehadiran Allah SWT di mana saja dia berada. Dia ridho dengan segala kondisi yang merupakan anugerah Allah. Dia takut untuk bermaksiat kepada Allah. Tapi sekaligus dia juga cinta dan penuh harap – tidak putus asa – dari rahmat Allah. Takwa itu indah. Taqwa itu nikmat. Dan taqwa itu suatu kebahagiaan. Karena itulah, kita diperintahkan untuk berjuang keras mencapai derajat yang mulia tersebut.

Manusia yang bertaqwa pasti manusia yang bahagia. Hidupnya jauh dari perasaan takut, resah, dan sedih. Tatkala kenikmatan dikucurkan kepadanya, dia bersyukur; dia tidak lupa diri; tidak gembira yang berlebihan. Tatkala musibah melanda, dia sabar; dia yakin, bahwa tidak ada sesuatu pun terjadi tanpa izin dan ketentuan Allah SWT. Dia tidak resah dengan nikmat yang diraih oleh saudara-saudara, tetangga, kawan kerja, atau rival politiknya.

Manusia akan sampai kepada derajat taqwa jika dirinya dipenuhi kecintaan dan keridhaan kepada Allah SWT. Imam al-Ghazali, dalam kitabnya al-Mahabbah, menulis: “Tiap-tiap yang indah itu dicinta. Tetapi yang indah mutlak hanyalah Satu. Maha Esa. Bahagialah orang yang telah sempurna mahabbahnya akan Dia. Kesempurnaan mahabbah-nya itu adalah karena dia menginsafi tanasub (persesuaian) batin antara dirinya dan Dia.” (Dikutip oleh KH Abdullah bin Nuh dalam terjemah dan pengantarnya atas karya Imam al-Ghazali, Minhajul ‘Abidin, (Bogor: Yayasan Islamic Center al-Ghazaly, 2010:v).

Tetapi, Imam al-Ghazali mengingatkan, bahwa semua bentuk ketaqwaan dan kecintaan kepada Allah adalah buah dari ilmu. Kata al-Ghazali: “Ketahuilah saudara-saudaraku – semoga Allah membahagiakan kita semua dengan keridhaan-Nya – bahwa ibadah itu adalah buah ilmu.Faedah umur. Hasil usaha hamba-hamba Allah yang kuat-kuat. Barang berharga para aulia. Jalan yang ditempuh oleh mereka yang bertaqwa. Bagian untuk mereka yang mulia. Tujuan orang yang berhimmah. Syiar dari golongan terhormat. Pekerjaan orang-orang yang berani berkata jujur. Pilihan mereka yang waspada. Dan jalan kebahagiaan menuju sorga.” (al-Ghazali, Minhajul Abidin (Terj. KH Abdullah bin Nuh), 2010:3).

Jadi, kata al-Ghazali, keindahan cinta kepada Allah itu hanya akan dinikmati oleh orang-orang yang bertaqwa. Itulah bahagia (sa’adah). Di dunia ini pun kita sudah dapat meraih bahagia, dengan cara mengenal Allah dan beribadah kepada-Nya. Bahagia bukan sesuatu yang sifatnya temporal, kondisional, dan tergantung pada faktor-faktor eksternal kebendaan sebagaimana dipahami oleh kaum sekular. Kamus The Oxford English Dictionary (1963) mendefinisikan bahagia (happiness) sebagai: ”Good fortune or luck in life or in particular affair; success, prosperity.”
Jadi, dalam pandangan ini, kebahagiaan adalah sesuatu yang ada di luar manusia, dan bersifat kondisional. Jika dia sedang berjaya, maka di situ ada kebahagiaan. Jika sedang jatuh, maka hilanglah kebahagiaan. Maka, menurut pandangan ini, tidak ada kebahagiaan yang abadi, yang tetap dalam jiwa manusia.
Prof. Naquib al-Attas menggambarkan kondisi kejiwaan masyarakat Barat-sekular sebagai berikut: “Mereka senantiasa dalam keadaan mencari dan mengejar kebahagiaan, tanpa merasa puas dan menetap dalam suatu keadaan.”

Tokoh panutan mereka adalah Sisyphus. Seorang yang pekerjaannya setiap hari mengangkat batu ke atas bukit. Sesampai di atas, dia gelindingkan lagi batu itu ke bawah. Sesampai di bawah, dia angkat lagi ke atas bukit. Begitu seterusnya. Katanya, dia mencari dan terus mencari. Kebenaran dan kebahagiaan tidak pernah dia temukan secara permanen. Bahkan, dia sendiri tidak percaya, dirinya bisa meyakini sesuatu.

Cobalah simak fenomena Sisyphus itu di era modern saat ini. Ada cendekiawan yang bangga bahwa setelah dia belajar Islam sampai ke manca negara, akhirnya dia mengaku, bahwa dia tidak tahu kebenaran. Kata dia, hanya Tuhan yang tahu kebenaran. Dia mengajak manusia untuk meragukan kemampuan akalnya sendiri dalam memahami dan menemukan kebenaran. Kata dia lagi, semua hasil pikiran manusia itu relatif. Yang mutlak hanya Tuhan.

Anehnya, manusia seperti ini bangga dengan pendapatnya. Mengaku tidak tahu kebenaran justru bangga! Itu sangat aneh dan merugi tentunya. Betapa tidak! Dengan doktrinnya sendiri, dia sudah mengunci dirinya sendiri dari kebenaran. Bahkan, sesungguhnya, dia telah menghina Nabi Muhammad saw. Jika dia mengatakan, bahwa hanya Allah yang tahu kebenaran, sama saja dengan dia mengatakan, bahwa Nabi Muhammad saw juga tidak tahu kebenaran, sebab beliau juga manusia. Bahkan, tanpa sadar, dia pun sebenarnya telah menghina Tuhan. Sebab, itu berarti, sama saja menuduh Tuhan telah menurunkan Kitab-Nya yang tidak bisa dipahami oleh manusia.

Dalam tataran nilai-nilai moral, pengikut jalan Sisyphus ini juga tidak percaya adanya suatu nilai moral yang mutlak benar. Semua dipandang temporal dan kondisional. Yang baik di satu tempat dan waktu tertentu, belum tentu baik di tempat dan waktu yang lain. Begitu juga dalam soal “bahagia”. Golongan ini menganut asas bahagia yang kondisional dan temporal. Mereka mendefinisikan bahagia sebagai perolehan atas suatu kenikmatan. Menurut mereka, orang akan meraih bahagia jika dia bisa makan enak, mendengar suara indah, melihat pemandangan yang indah, maraih posisi jabatan yang tinggi. Jadi, bahagia, bagi mereka, identik dengan pemenuhan syahwat keduniaan. Kata mereka: anda bahagia jika anda berhasil melampiaskan seluruh syahwat-syahwat keduniaan!

Islam bukanlah agama yang mengharamkan pemenuhan syahwat dunia, sebagaimana diajarkan sejumlah agama. Islam bukan agama ekstrim yang melarang manusia menikmati syahwat-syahwat dunia. Tapi, Islam juga tidak memerintahkan umatnya untuk melampiaskan syahwatnya semaunya sendiri. Islam memerintahkan umatnya untuk bertindak adil, mengendalikan diri dalam pemenuhan syahwat, sesuai dengan aturan Allah SWT. Syahwat mata, telinga, perut, seksual, boleh dipenuhi dalam batas dan aturan-aturan tertentu. Rasululllah saw pernah menegur sebagian sahabatnya yang mereka hendak puasa terus-menerus atau tidak mau menikah dengan alasan untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Itulah hakekat pengendalian diri. Di sinilah shaum Ramadhan memiliki arti yang sangat penting, yakni sebagai upaya latihan pengendalian diri atau mengendalikan hawa nafsu. Sabda Rasululullah saw: “al-Mujaahid man jaahada nafsahu” (HR Tirmidzi, shahih menurut al-Iraqi). Jadi, menahan berbagai syahwat dunia di bulan Ramadhan adalah salah satu bentuk jihad fi-sabilillah. Dengan latihan yang serius dan terus-menerus sebulan penuh, maka diharapkan naiklah derajat ketaqwaan kita. Maka, seharusnya, buah orang yang puasa adalah taqwa, takut untuk bermaksiat kepada Allah. Pejabat yang taqwa harusnya semakin takut menzalimi rakyatnya, atau membiarkan rakyatnya sengsara, sementara dia bergelimang kekayaan dari hasil uang negara yang bukan menjadi haknya.

Para pejabat seperti ini tidak mungkin meraih maqam taqwa dan bahagia. Orang-orang yang hidupnya bergantung pada pujian orang – baik ustad, kyai, ulama atau selebritis – tentulah tidak mungkin akan meraih bahagia. Sebab, pujian itu hanya sesaat saja. Pujian itu suatu ketika akan sirna. Jika dia dipuji karena kecantikannya, maka suatu ketika akan muncul manusia lain yang lebih cantik; atau kecantikannya pun semakin memudar. Seorang pejabat tidak akan selamanya diberi hormat.

Apalagi pejabat yang berakhlak bejat. Dia dihormat karena pangkat; bukan karena harkat dan akhlak. Saat menjabat dia dihormati; dan saat kedudukannya hilang, dia bukan siapa-siapa lagi!

Itu semua adalah syahwat dunia. Sifatnya sesaat, kondisional dan temporal. Itu bukan bahagia, dalam makna yang hakiki. Prof. Syed Muhammad Naquib Al-Attas mendefinisikan kebahagiaan (sa’adah/happiness) sebagai berikut:

”Kesejahteraan” dan ”kebahagiaan” itu bukan dianya merujuk kepada sifat badani dan jasmani insan, bukan kepada diri hayawani sifat basyari; dan bukan pula dia suatu keadaan akal-fikri insan yang hanya dapat dinikmati dalam alam fikiran dan nazar-akali belaka. Kesejahteraan dan kebahagiaan itu merujuk kepada keyakinan diri akan Hakikat Terakhir yang Mutlak yang dicari-cari itu – yakni: keadaan diri yang yakin akan Hak Ta’ala – dan penuaian amalan yang dikerjakan oleh diri itu berdasarkan keyakinan itu dan menuruti titah batinnya.” (SMN al-Attas, Ma’na Kebahagiaan dan Pengalamannya dalam Islam, (Kuala Lumpur: ISTAC:2002), pengantar Prof. Zainy Uthman, hal. xxxv).

Jadi, kebahagiaan adalah kondisi hati, yang dipenuhi dengan keyakinan (iman), dan berperilaku sesuai dengan keyakinannya itu. Bilal bin Rabah r.a. merasa bahagia dapat mempertahankan keimanannya, meskipun dalam kondisi disiksa. Imam Abu Hanifah merasa bahagia meskipun harus dijebloskan ke penjara dan dicambuk setiap hari, karena menolak diangkat menjadi hakim negara. Orang-orang kaya akan merasa bahagia jika kekayaannya diraih dengan halal dan hartanya diserahkan untuk perjuangan menegakkan kebenaran. Sebab, dia sangat yakin dengan kehidupan akhirat. Dia bahagia saat menjalankan ibadah. Dia tenang, karena siap bertemu dengan Allah – Sang Khaliq – dan mempertanggungjawabkan seluruh harta yang dimilikinya: dari mana dia peroleh dan untuk apa digunakan!
Seorang muslimah, dia merasa bahagia saat mentaati suaminya – selama tidak bertentangan dengan aturan Allah SWT. Dia tidak merasa tertekan atau menderita.

Beda halnya dengan aktivis kesetaraan gender yang memandang bentuk ketaatan pada suami sebagai suatu diskriminasi dan penindasan perempuan. Seorang suami merasa bahagia tatkala bepergian membelanjakan hartanya untuk anak dan istrinya.

Meskipun dia harus bekerja siang malam membanting tulang. Perasaan bahagia yang kekal akan terjaga selama dilandasi suatu keyakinan yang kokoh kepada Allah SWT.

Jalan terjal dan mendaki

Tentu saja, untuk meraih kebahagiaan tersebut, perlu jalan terjal dan mendaki. Imam al-Ghazali menggambarkan kesukaran jalan menuju bahagia tersebut: “Ternyata ini jalan yang amat sukar. Banyak tanjakan dan pendakiannya. Sangat payah dan jauh perjalanannya. Besar bahayanya. Tidak sedikit pula halangan dan rintangannya. Samar dimana tempat celaka dan akan binasanya. Banyak lawan dan penyamunnya. Sedikit teman dan penolongnya.”

Memang sudah begitu adanya! Sebab, kata al-Ghazali, Rasulullah saw sudah bersabda:

“Ingatlah, sorga itu dikepung oleh segala macam kesukaran atau hal-hal yang tidak disukai (al-makaarih); dan neraka itu dikepung oleh hal-hal yang disukai manusia (al-syahawaat).” (HR Thabrani, shahih).

Jadi, memang tidak mudah untuk meraih derajat taqwa dan bahagia. Perlu perjuangan berat. Jalan menuju ke sana mendaki dan tajam. Tapi, tidak ada pilihan lain. Mau sorga atau neraka. Waktu terus bergulir. Tidak memberikan pilihan lain. Kata Imam Al-Ghazali:

“Namun waktu telah berlalu, tak dapat dipanggil kembali. Pendeknya siapa yang sigap, dialah yang beruntung. Bahagia selama-lamanya dan sekekal-kekalnya. Tetapi siapa yang terlewat, maka rugi dan celakalah dia. Kalau begitu, Demi Allah, perkara ini sulit dan bahayanya besar. Karena itu makin jarang saja yang memilih jalan ini. Di antara yang telah memilihnya pun jarang sekali yang benar-benar menempuhnya. Dan diantara yang menempuhnya juga makin jarang pula yang sampai kepada tujuannya serta berhasil mencapai apa yang dikejarnya. Mereka yang berhasil itulah yang merupakan orang-orang yang dipilih Allah ‘Azza wa Jalla untuk ma’rifat dan mahabbah kepada-Nya. Diberi-Nya taufiq dan peliharaan terhadap mereka. Dan disampaikan-Nya dengan penuh karunia kepada keridhaan dan sorga-Nya. Kita mohon semoga Allah SWT memasukkan kita ke dalam golongan yang beruntung memperoleh rahmat-Nya.” (Ibid, hal. 4-5).

Ya! Semoga kita semua termasuk orang-orang yang terus berusaha dan berusaha serta tidak berputus asa untuk menjadi orang yang taqwa, sehingga kita mampu mendaki ke puncak tangga “bahagia” – di dunia dan akhirat. Semoga Ramadhan 1432 Hijriah ini benar-benar menjadi Ramadhan terindah dalam sejarah kehidupan yang sudah kita lalui dan kita diberi kesempatan maraih berkah Ramadhan kembali di masa yang akan datang. Amin.

sumber : www.hidayatullah.com